Halo semuanya. Disini admin akan membahas mengenai budaya sunda zaman dahulu. Mengapa membahas topik ini? Nah,
admin membahas topik ini karena ternyata budaya Sunda zaman sekarang sudah
mengalami perubahan-perubahan budaya yang diakibatkan dari adanya globalisasi maupun faktor-faktor
lain yang mendukung akan perubahan budaya Sunda zaman sekarang ini. Untuk
detailnya mari kita masuk saja ke materi.
*bagi
yang tidak mengerti bahasa Sunda, judul di atas bila di artikan kedalam bahasa
Indonesia yaitu “Melihat Budaya Sunda Zaman Dahulu”
Tatar
Sunda atau suku Sunda berpusat di Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu suku
budaya asli bangsa yang telah mengarungi peradaban lebih tua daripada suku
lainnya di Indonesia bahkan
dibandingkan dengan kebudayaan Jawa sekalipun. Kebudayaan Sunda termasuk
kebudayaan yang berusia relatif lebih tua, setidaknya dalam hal pengenalan
terhadap budaya tulis. "Kegemilangan" kebudayaan Sunda di masa lalu,
khususnya semasa Kerajaan Tarumanegara dan Kerajaan Sunda, dalam
perkembangannya kemudian seringkali dijadikan acuan dalam memetakan apa yang
dinamakan kebudayaan Sunda.
Tolak
ukur budaya Sunda terefleksi dalam kesenian. Kearifan lokal Sunda memiliki
nilai tersendiri bagi kehidupan bangsa maupun bagi nusantara. Kebudayaan Sunda yang ideal pun kemudian
sering dikaitkan sebagai kebudayaan raja-raja Sunda atau tokoh yang
diidentikkan dengan raja Sunda. Dalam kaitan ini, sosok Prabu Siliwangi
dijadikan sebagai tokoh panutan dan kebanggaan orang Sunda karena dimitoskan
sebagai raja Sunda yang berhasil, sekaligus mampu memberikan kesejahteraan
kepada rakyatnya.
Apa itu Sunda ?
Sunda berasal dari kata Su = Bagus/ Baik, segala sesuatu yang
mengandung unsur kebaikan, orang Sunda diyakini memiliki etos / watak /
karakter Kasundaan sebagai jalan menuju keutamaan hidup. Watak / karakter Sunda
yang dimaksud adalah cageur (sehat), bageur (baik), bener
(benar), singer (mawas diri), dan pinter (pandai / cerdas) yang sudah
dijalankan sejak jaman Salaka Nagara sampai ke Pakuan Pajajaran, telah membawa
kemakmuran dan kesejahteraan lebih dari 1000 tahun.
Makna kata Sunda sangat luhur, yakni cahaya, cemerlang, putih, atau bersih. Makna kata Sunda itu tidak hanya ditampilkan dalam penampilan, tapi juga didalami dalam hati. Karena itu, orang Sunda yang 'nyunda' perlu memiliki hati yang luhur pula. Itulah yang perlu dipahami bila mencintai, sekaligus bangga terhadap budaya Sunda yang dimilikinya.
Makna kata Sunda sangat luhur, yakni cahaya, cemerlang, putih, atau bersih. Makna kata Sunda itu tidak hanya ditampilkan dalam penampilan, tapi juga didalami dalam hati. Karena itu, orang Sunda yang 'nyunda' perlu memiliki hati yang luhur pula. Itulah yang perlu dipahami bila mencintai, sekaligus bangga terhadap budaya Sunda yang dimilikinya.
Ada beberapa etos atau watak dalam budaya Sunda tentang satu
jalan menuju keutamaan hidup. Selain itu, etos dan watak Sunda juga dapat
menjadi bekal keselamatan dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Etos dan
watak Sunda itu ada lima, yakni cageur, bageur, bener, singer, dan pinter yang
sudah lahir sekitar jaman Salakanagara dan Tarumanagara. Ada bentuk lain ucapan
sesepuh Sunda yang lahir pada abad tersebut. Lima kata itu diyakini mampu
menghadapi keterpurukan akibat penjajahan pada zaman itu. Coba kita resapi
pelita kehidupan lewat lima kata itu. Semua ini sebagai dasar utama urang Sunda
yang hidupnya harus 'nyunda', termasuk para pemimpin bangsa.
Cara meresapinya dengan memahami artinya .
- Cageur, yakni harus sehat jasmani dan rohani, sehat berpikir, sehat berpendapat, sehat lahir dan batin, sehat moral, sehat berbuat dan bertindak, sehat berprasangka atau menjauhkan sifat suudzonisme.
-
Bageur yaitu baik hati, sayang kepada sesama, banyak memberi pendapat dan kaidah moril terpuji ataupun materi, tidak pelit, tidak emosional, baik hati, penolong dan ikhlas menjalankan serta mengamalkan, bukan hanya dibaca atau diucapkan saja.
- Bener yaitu tidak bohong, tidak asal-asalan dalam mengerjakan tugas pekerjaan, amanah, lurus menjalankan agama, benar dalam memimpin, berdagang, tidak memalsu atau mengurangi timbangan, dan tidak merusak alam.
- Singer, yaitu penuh mawas diri (bukan was-was), mengerti pada setiap tugas, mendahulukan orang lain sebelum pribadi, pandai menghargai pendapat yang lain, penuh kasih sayang, tidak cepat marah jika dikritik tetapi diresapi makna esensinya.
- Pinter, yaitu pandai ilmu dunia dan akhirat, mengerti ilmu agama sampai ke dasarnya, luas jangkauan ilmu dunia dan akhirat walau berbeda keyakinan, pandai menyesuaikan diri dengan sesama, pandai mengemukakan dan membereskan masalah pelik dengan bijaksana, dan tidak merasa pintar sendiri sambil menyudutkan orang lain.
Sunda Zaman Dahulu
a. Nilai-nilai budaya
Kebudayaan Sunda memiliki ciri khas
tertentu yang membedakannya dari kebudayaan–kebudayaan lain. Secara umum
masyarakat Jawa Barat atau Tatar Sunda, dikenal sebagai masyarakat yang lembut,
religius, periang,
ramah-tamah (soméah, seperti dalam falsafah someah
hade ka semah), murah senyum, dan sangat spiritual.
Kecenderungan ini tampak sebagaimana dalam pameo silih asih, silih asah
dan silih asuh; saling mengasihi (mengutamakan sifat welas asih), saling
menyempurnakan atau memperbaiki diri (melalui pendidikan dan berbagi ilmu), dan
saling melindungi (saling menjaga keselamatan).
Selain itu Sunda juga memiliki
sejumlah nilai-nilai lain seperti kesopanan, rendah hati terhadap sesama,
hormat kepada yang lebih tua, dan menyayangi kepada yang lebih kecil. Pada
kebudayaan Sunda keseimbangan magis dipertahankan dengan cara melakukan
upacara-upacara adat sedangkan keseimbangan sosial masyarakat Sunda melakukan
gotong-royong untuk mempertahankannya.
b. Pandangan Hidup
b. Pandangan Hidup
Masyarakat
Sunda mempunyai pandangan hidup yang diwariskan oleh nenek moyangnya. Seperti
yang pada ungkapan tradisional berikut ini.
"Hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke,
aya ma beuheula aya tu ayeuna, hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna. Hana
tunggak hana watang, tan hana tunggak tan hana watang. Hana ma tunggulna aya tu
catangna."
Artinya: Ada dahulu ada sekarang, bila tak ada dahulu tak
akan ada sekarang, karena ada masa silam maka ada masa kini, bila tak ada masa
silam takan ada masa kini. Ada tunggak tentu ada batang, bila tak ada tunggak
tak akan ada batang, bila ada tunggulnya tentu ada batangnya.
c. Hubungan antara sesama manusia
c. Hubungan antara sesama manusia
Hubungan antara manusia dengan sesama manusia dalam
masyarakat Sunda tampak pada ungkapan-ungkapan berikut ini :
- Kawas
gula eujeung peueut.
(Hidup harus rukun saling menyayangi, tidak pernah
berselisih)
- Mulah marebutkeun balung tanpa
eusi.
(Jangan memperebutkan perkara yang tidak ada gunanya)
- Mulah ngaliarkeun taleus ateul.
(Jangan menyebarkan perkara yang dapat menimbulkan keburukan
atau keresahan)
- Mulah
nyolok panon buncelik.
(Jangan berbuat sesuatu di hadapan orang lain dengan maksud
mempermalukan)
- Buruk-buruk papan jati.
d. Hubungan antara manusia dengan negara dan bangsanya
Hubungan
antara manusia dengan negara dan bangsanya dalam masyarakat Sunda terpancar
dalam ungkapan-ungkapan berikut ini :
- Kudu nyanghulu ka hukum,
nunjang ka nagara, mupakat ka balareya.
(Harus
menjunjung tinggi hukum, berpijak kepada ketentuan negara, dan bermupakat
kepada kehendak rakyat)
- Bengkung ngariung bongkok ngaronyok.
(Bersama-sama
dalam suka dan duka)
- Nyuhunkeun bobot pangayon timbang taraju.
(Memohon
pertimbangan dan kebijaksanaan yang seadil-adilnya)
Perubahan
Budaya Masyarakat Sunda
Setiap bangsa memiliki etos, kultur, dan budaya yang berbeda.
Namun tidaklah heran jika ada bangsa yang berhasrat menanamkan etos budayanya
kepada bangsa lain. Karena beranggapan, bahwa etos dan kultur budaya memiliki
kelebihan. Kecenderungan ini terlihat pada etos dan kultur budaya bangsa kita,
karena dalam beberapa dekade telah terimbas oleh budaya bangsa lain. Arus
modernisasi menggempur budaya nasional yang menjadi jati diri bangsa. Budaya
nasional kini terlihat sangat kuno, bahkan ada generasi muda yang malu
mempelajarinya. Kemampuan menguasai kesenian tradisional dianggap tak
bermanfaat. Rasa bangsa kian terkikis, karena budaya bangsa lain lebih terlihat
menyilaukan. Kondisi memprihatinkan ini juga terjadi pada budaya Sunda,
sehingga orang Sunda kehilangan jati dirinya.
Sebagai contoh
yang paling jelas adalah bahasa Sunda yang merupakan bahasa komunitas
masyarakat Sunda tampak secara eksplisit semakin jarang digunakan oleh
pemiliknya sendiri, khususnya para generasi muda Sunda. Dan yang lebih
memprihatinkan lagi, menggunakan bahasa Sunda dalam komunikasi sehari-hari
terkadang diidentikkan dengan “keterbelakangan”, untuk tidak dikatakan
primitif. Akibatnya, timbul rasa gengsi pada masyarakat Sunda untuk menggunakan
bahasa Sunda dalam pergaulannya sehari-hari. Bahkan, rasa “gengsi” ini
terkadang ditemukan pula pada mereka yang sebenarnya merupakan pakar di bidang
bahasa Sunda.
Selain
penggunaan bahasa Sunda lagi yang jarang digunakan, etika-etika dan nilai-nilai
moral masyarakat Sunda zaman dahulu mulai ditinggalkan oleh masyarakatnya
sendiri. Seperti misalnya bila ingin
menunjukan sesuatu, diusahakan tidak mengacungkan telunjuk
tetapi memakai jempol dengan jari-jari lain dirangkapkan dan ketika menunjukkan
arah badan harus agak membungkuk. Ada juga etika ketika duduk dalam suatu jamuan atau riungan, ketika duduk di
lantai lelaki harus bersila sedangkan wanita harus ‘emok’ atau bersimpuh. Selain itu,
bila berbicara dengan orang yang lebih tua, tidak boleh memandang mata dan
usahakan untuk mendengarkan terlebih dahulu sebelum memberi komentar ataupun
sanggahan, dan masih banyak etika-etika dalam berperilaku masyarakat Sunda
zaman dahulu. Perilaku-perilaku kecil seperti itu sudah jarang ditemukan oleh
masyarakat Sunda sekarang ini khususnya di daerah urban ataupun perkotaan
lainnya.
Oleh karenanya, jangankan di luar komunitas Sunda, di dalam komunitas Sunda sendiri, kebudayaan Sunda seringkali menjadi asing. Kemampuan tumbuh dan berkembang kebudayaan Sunda juga dapat dikatakan memperlihatkan tampilan yang tidak kalah memprihatinkan. Jangankan berbicara pemikiran-pemikiran baru, itikad untuk melestarikan apa yang telah dimiliki saja dapat dikatakan sangat lemah. Kebudayaan Sunda pun tampaknya terlihat masyarakat membuka ruang bagi terjadinya proses tersebut, dapat dikatakan menjadi salah satu penyebab rentannya budaya Sunda dalam proses regenerasi. Akibatnya, jadilah budaya Sunda yang gagap dengan regenerasi.
Pelestarian Budaya Sunda
Dengan adanya globalisasi, seperti yang telah disebutkan
tadi bahwa kebudayaan Sunda mulai mengalami kepunahan. Tataran Sunda atau masyarakat Sunda mulai kehilangan jati diri
akibat dampak dari percampuran budaya yang berasal dari budaya-budaya luar
khususnya budaya barat.
Sebelum
kebudayaan Sunda menghilang sepenuhnya diperlukannya rasa cinta, tanggung jawab
serta rasa kepedulian akan budaya Sunda untuk melestarikan kebudayaan ini. Rasa
cinta, tanggung jawab dan rasa kepedulian akan budaya harus ditanamkan sejak dini
agar perasaan-perasaan tersebut dapat tertanam dan selalu teringat di dalam
hati. Selain itu, diperlukan juga upaya-upaya pelestarian budaya khususnya
untuk kebudayaan Sunda, seperti :
3.Pemanfaatan : melaksanakan kegiatan pengemasan produk, bimbingan dan penyuluhan, kegiatan festival dan penyebaran informasi.
4.Pendokumentasian : melaksanakan kegiatan pembuatan laporan berupa narasi yang dilengkapi dengan foto dan audio visual.
Contoh
nyata dari upaya pelestarian kebudayaan Sunda yang telah disebutkan diatas
adalah dengan mengenali adat-adat istiadat Sunda, mengetahui alat-alat musik Sunda
(seperti : angklung, calung, kecapi, suling, dll), rumah adat, pakaian adat
budaya Sunda, mengaplikasikan bahasa Sunda di kehidupan sehari-hari serta tidak
lupa dengan menggunakan undak usuk bahasa Sunda (yaitu tatakrama dalam berbicara bahasa Sunda), berperilaku sesuai
etika-etika budaya Sunda (seperti selalu menjamu tamu dengan sebaik-baiknya,
menyapa sesama ketika bertemu seseorang), dan sebagainya.
Upaya pelestarian budaya ini
harus di dukung oleh semua pihak baik oleh pemerintah, lembaga-lembaga (seperti
lembaga sekolah) maupun masyarakat Sunda sendiri harus melestarikan budaya
Sunda agar budaya Sunda tidak hilang atau punah di masa depan. Diharapkan
dengan adanya pelestarian budaya ini, budaya Sunda akan selalu tetap ada dan
menjadi budaya yang kedudukannya setara bahkan lebih unggul dibandingkan dengan
budaya lain.
Untuk lebih mengetahui tentang budaya Sunda, admin post video dari youtube ya. Silakan dinikmati. :D
Untuk lebih mengetahui tentang budaya Sunda, admin post video dari youtube ya. Silakan dinikmati. :D
Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Budaya_Sunda
http://dunia-kesenian.blogspot.co.id/2014/11/mengenal-suku-sunda-asal-daerah-jawa-barat.html
http://dunia-kesenian.blogspot.co.id/2014/11/mengenal-suku-sunda-asal-daerah-jawa-barat.htmlhttp://dunia-kesenian.blogspot.co.id/2014/11/mengenal-suku-sunda-asal-daerah-jawa-barat.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar