Minggu, 15 Oktober 2017

Hoax dan Masa Kini




picture from http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-38547449

     Sekarang ini banyak sekali perbincangan-perbincangan mengenai hoax. Tapi apa sih arti dari hoax itu sendiri? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hoaks dari kata hoax yang mengganti huruf ‘x’ dengan ‘ks’ artinya adalah berita bohong. Hoax dapat juga diartikan sebagai suatu kata yang digunakan untuk menunjukan pemberitaan palsu atau usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu yang biasanya digunakan dalam forum internet seperti facebook, twiter, dan instagram.

Dalam penyampaiannya berita hoax mengenai isu-isu yang akan terjadi, sedang terjadi ataupun yang telah terjadi yang akan memberikan suatu dampak kepada pengguna atau pegiat media sosial. Pesan yang disampaikan mempunyai sisi emosional yang dapat memunculkan reaksi terhadap pengguna media sosial tersebut sehingga penilaian secara langsung tanpa didasari keingintahuan pesan yang disampaikan itu benar adanya atau fakta. Yang paling umum salah satunya yaitu mengklaim sesuatu kejadian atau barang dengan suatu sebutan yang berbeda dengan kejadian/ barang yang sebenarnya.

Seiring dengan perkembangan teknologi serta kemudahan dalam penggunaannya menjadikan media online menjadi media penyebaran berita yang sangat berpengaruh pada masyarakat saat ini. Penyebaran berita melalui media online tidak hanya dilakukan oleh media-media komunikasi yang sudah memiliki nama, namun saat ini semua orang juga dapat berperan dalam penyebaran suatu informasi. Informasi-informasi yang disebarkan oleh individual inilah yang lebih sering tidak memiliki pertanggung jawaban atas kebenaran informasi tersebut berisi mengenai berita hoax. Melihat masyarakat yang mudah terpengaruh oleh suatu berita tanpa mencari tahu kebenaran akan berita tersebut dapat menjadi suatu permasalahan. Melihat hal tersebut terlihat adanya unsur-unsur psikologis dalam fenomena ini yaitu self regulation dan konformitas.

Self regulation/regulasi diri menurut Schunk (dalam Susanto 2006), adalah kemampuan untuk mengontrol diri sendiri. Zimmerman (1989)  mengungkapkan  bahwa  regulasi  diri  merujuk  pada pikiran, perasaan dan tindakan yang terencana oleh diri dan terjadi secara berkesinambungan sesuai  dengan  upaya  pencapaian tujuan. Dari pemaparan tersebut dapat disimpulkan bahwa self regulation adalah kemampuan seseorang dalam mengontrol, mengatur, merencanakan, mengarahkan, dan  memonitor  perilaku  dalam  melakukan kegiatan untuk   dapat   mencapai   tujuan.

Sedangkan, Baron  dan  Byrne  (1994)  berpendapat  bahwa  seseorang  melakukan  konformitas  terhadap  kelompok  hanya  karena  perilaku  individu  didasarkan  pada  harapan kelompok atau masyarakat. Myers (2008) mengatakan konformitas adalah perubahan perilaku sebagai hasil dari tekanan yang nyata atau imajinasi dari kelompok. Dapat disimpulkan bahwa konformitas  adalah  suatu bentuk perilaku, sikap, dan keyakinan yang   ditampilkan  oleh  seseorang  baik  karena  adanya  tekanan  dari  kelompok  maupun  yang   hanya   ingin   berperilaku   sama   dengan   orang   lain   dan   mengindahkan   nilai-nilai   yang   berlaku.  

Disini penulis membuat sebuah hipotesis yaitu orang yang memiliki self regulation yang tinggi akan mudah untuk mengontrol, mengatur, merencanakan, dan mengarahkan dirinya agar tidak tertipu dengan berita-berita bohong yang ada. Ketika orang yang memiliki self regulation yang tinggi mendapatkan sebuah informasi, dia akan mengecek terlebih dahulu informasi yang telah didapatkannya. Berita baiknya adalah orang yang memiliki kepribadian ini tidak akan mudah untuk dibohongi, dimanipulasi, dan dimonitori oleh orang lain. Dia akan selalu hati-hati ketika mendapatkan sebuah informasi atau ketika dia akan menyampaikan sebuah informasi ke orang lain.

Berbeda halnya dengan konformitas, melihat dari definisi yang telah dipaparkan di atas konformitas dapat didefinisikan sebagai perilaku mengikuti orang lain sehingga penulis memiliki hipotesis yang menyatakan jika seseorang dengan konformitas yang tinggi maka orang tersebut akan mudah mengikut-ikuti orang lain, mudah dimanipulasi, muadah dimonitori oleh orang lain, tidak berprinsip, dan sangat mudah dibohongi oleh orang lain. Dalam kasus fenomena hoax ini, orang yang memiliki konformitas yang tinggi cenderung tidak mengecek terlebih dahulu informasi yang telah di dapatkannya dari orang lain, dia akan percaya saja apa yang disampaikan orang lain tanpa melihat apa yang telah disampaikan itu sebuah informasi yang berupa fakta atau sebuah kebohongan (berita hoax)


Sumber 


Baron, R. A.& Byrne. D. (1994). Psikologi sosial jilid 2 (10th edition). Jakarta: Erlangga.
Myers, D.G. (1999). Social Psychology. (5th Edition). New York: The McGraw-Hill Companies.
Susanto, Handy. (2006). Mengembangkan Kemampuan Self Regulation untuk Meningkatkan Keberhasilan Akademik Siswa. Jurnal Pendidikan Penabur, 07, 64 – 71
Zimmerman, B.J., & Pons, M.M., (1990). Student Differences in Self-Regulated Learning: Relating Grade, Sex, andGiftedness to Self-Efficacy and Strategy Use. Journal of Educational Psychology, 82(1), 51-59.

Senin, 02 Mei 2016

Makalah Fungsi Matematika


Untuk post kali ini, admin mau bagi-bagi ilmu tentang materi fungsi matematika, dari pengertian fungsi sampai ke macam-macam fungsi. Dibagian paling akhir, ada contoh soal dari fungsi komposisi dan invers. Semoga artikel ini bermanfaat. :)